Global Warming
Udara makin gerah, banjir makin tinggi dan bencana yang makin sering terjadi membuat orang terheran-heran. Ada yang bilang Tuhan marah, alam ngamuk atau global warming. Semuanya berasal pada satu hal yaitu manusia yang kurang ajar. Belakangan global warming mendapat perhatian lebih dari Bapak Presiden kita SBY sehingga beliau mencanangkan program menanam sejuta pohon untuk mengurangi penambahan emisi gas rumah kaca. Tapi banyak juga orang yang bertanya “Apa hubungannya sih pohon sama gas rumah kaca?”. Aku sendiri bukan ahli global warming jadi aku akan membahasnya secara sok tau.
Global warming atau pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi. Peningkatan suhu ini lebih cepat dari kewajaran sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadi kekacauan ekosistem di planet kita tercinta ini yang ujung-ujungnya mengancam kelangsungan hidup kita juga. Suhu bumi pada abad 20 terutama sejak tahun 1976 meningkat dengan cepat seperti harga cabe menjelang lebaran.
Para pawang iklim di IPCC menyebutkan kelakuan manusia dalam penambahan konsentrasi gas rumah kaca sebagai penyebab makin panasnya bumi. Banyak gas di atmosfer yang bisa di bilang sebagai gas rumah kaca tapi kandidat yang paling kuat adalah uap air (H2O), karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O), dan klorofluorokarbon (CFC). Gas – gas tersebut menahan energi panas yang dipancarkan bumi yang seharusnya minggat keluar angkasa namun terperangkap di atmosfer paling rendah. Gas – gas ini umumnya kerjaan alam kecuali CFC. Selain menahan panas, CFC juga mampu menghancurkan lapisan ozon yang merupakan tameng radiasi ultraviolet.
Sejak kita masuk ke jaman industri dan mengkonsumsi bahan bakar fosil secara kelewatan maka jumlah gas-gas tersebut terutama karbondioksida mengalami pembengkakan. Gas ini harusnya terserap oleh lautan dan tumbuhan tapi karna pembabatan hutan yang juga gila-gilaan menyebabkan alam kewalahan menyerap karbondioksida dan akhirnya berkumpullah mereka di atas sana menunggu saat – saat balas dendam.
Uap air sendiri merupakan rangkaian akibat dari memanasnya atmosfer dan jumlahnya adalah yang paling turah. Udara yang panas membuat kelembaban meningkat dan membentuk uap air di atmosfer. Semakin banyak uap air maka dia semakin kuat menyerap panas sehingga suhu jadi bertambah panas. Bahasa sananya di sebut ‘positive feedback loop’.
Pemanasan global mengakibatkan kekacauan di mana-mana. Dan sekarang mulai bisa dirasakan. Es di kutub mencair, level air laut naik, menenggelamkan pulau-pulau kecil dan mengacaukan ekosistem global. Lalu cuaca pun akan semakin ekstrim. Musim kemarau makin panjang, musim hujan makin pendek dengan curah hujan sangat tinggi dan topan badai makin kuat. Bencana alam pun makin heboh. Gosipnya beberapa dekade ke depan banjir kiriman akan datang 9 x lebih besar di Asia Selatan dan Tenggara dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi. Beberapa wilayah akan lebih basah sedangkan lainnya akan lebih kering dan kepanasan. Afrika akan terancam berat kekurangan air. Indonesia terancam kehilangan 2000 pulau dalam 33 tahun mendatang. Munculnya penyakit lama semacam diare, malaria, demam berdarah di tambah dengan beberapa penyakit baru. Produksi pangan menurun. Binatang dan manusia terancam migrasi atau mati. Dampak lainnya silakan di googling sendiri karna banyak dan saling mempengaruhi. Yang jelas dampak – dampak tersebut mengarah ke satu hal : kepala makin pusing karna hidup makin susah.
Apa yang harus kita lakukan sebagai makhluk yang di tuduh menjadi penyebab kekacauan iklim ini
Kita ? elo aja kalee. Pengkonsumsi energi terbesar kan Amerika dan Negara Uni Eropa yang memakan 59,1 % energi dunia. Indonesia sih cuma pake 1,1 %.
Ya, tapi ibaratnya begini : kalo kita sekapal dengan bule gila yang suka ngelubangin lambung kapal, kan akhirnya kita juga yang kelelep.
Jika kita masih cuek-cuek saja maka apa yang dimimpikan oleh Jucelino Nobrega da Luz akan menjadi kenyataan. Sebagian mimpinya adalah :
Di tahun 2010, temperatur beberapa negara Afrika kemungkinan besar meningkat hingga 58°C, bersamaan itu terjadi kekurangan air bersih yang parah. Mulai 6 Desember 2012 langit berubah memasuki jaman awan hitam, disebut sebagai kabut pekat karena cuaca. Pertengahan November 2015 suhu rata-rata dunia kemungkinan mencapai 59°C, ada banyak orang mati kepanasan, sehingga kekalutan besar dunia semakin parah saja. Di tahun 2043, penduduk dunia berkurang secara drastis, terdapat sekitar 80% penduduk tewas di dalam bencana. Dan sesudah pemanasan global akan terjadi gejala berbalik menjadi ekstrim dingin. Jika suhu bumi meningkat drastis, pulau Greenland dan kutub selatan akan ada es dalam jumlah cukup besar yang meleleh maka sirkulasi besar samudra menjadi lemah sehingga berubah menjadi efek pendinginan, dan menandakan kelahiran jaman es baru.
Kalo yang ini terserah mau di percaya atau engga, tergantung keimanan masing-masing, aku tidak punya hak menghakimi. Itu memang mimpi seorang guru di Brazil yang kebetulan juga pernah bermimpi tentang meninggalnya Putri Diana, runtuhnya tembok Berlin, 2 x serangan teroris ke WTC, gempa besar Osaka-Kobe 1995, gempa Cuetsu 2004, bencana Tsunami Aceh 2004, berantemnya Amerika dan Irak, lengkap dengan tanggal, bulan dan tahunnya.
PBB sebenarnya sudah menghimbau negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 5,2 % lewat Protokol Kyoto. Namun ini tidak berjalan efektif karna Bapak Presiden Amerika Serikat George Walker Bush yang negaranya mengkonsumsi hampir sepertiga energi dunia memboikot perjanjian tersebut.
Jadi gimana dong
Langkah pertama, mungkin kita bisa mencekek si bule rame-rame dan melemparnya ke laut.
Kedua, menurunkan ego dan perlakukan alam dengan lebih sopan karna kita sangat membutuhkan alam yang ramah untuk hidup.
Ketiga, buat tukang minyak dan relasinya, mungkin bisa di cari cara untuk menangkap atau mengubur gas CO2nya.
Keempat, mengubah praktik bercocok tanam. Dengan varietas, cara tanam, dan sistem pengairan tertentu, petani bisa mengurangi emisi gas metana, dari sawah. Varietas IR 64, Membrano dan Way Apo Buru yang ditanam dengan pindah bisa menekan emisi metana 60 %, 35 % dan 38% dibandingkan dengan Cisadane. Membramo dan Way Apo Buru yang ditanam dengan cara tabur benih langsung mengurangi emisi metana dan juga memiliki produktivitas yang tinggi (7 – 9 ton per hektare) dan berumur genjah.
Kelima, mengajari para pemboros energi itu untuk hidup lebih prihatin. Indonesia sepertinya dari dulu sudah ahli hidup irit energi dan listrik. Kalo gat tau caranya, belajar sama ibu kos.
Keenam, kurangi ngegame di depan komputer. Perbanyak kegiatan outdoor dengan teman atau tetangga.
Ketujuh, hati-hati beli barang. Hairspray, deodorant atau kulkas, pilih yang bebas CFC.
Kedelapan, kalo beli kendaraan jangan kayak milih pacar. Jangan cuma dilihat tampangnya atau larinya, lihat juga iritnya dan ramahnya sama lingkungan.
Kesembilan, Kalo mau bangun rumah, buat design yang memaksimalkan sistem ventilasi dan aliran air untuk menghemat penerangan, pendinginan udara dan air. Jadi ga perlu pake AC dan limbah air mandi bisa dipakai untuk menggelontor tinja.
Kesepuluh, banyak-banyaklah menanam pohon karna pohon mengikat CO2 untuk fotosintesisnya. Pohon loh ya, bukan kembang. Kembang memang enak di pandang tapi ga bikin adem.
Kesebelas, jangan buang sampah sembarangan di jalan, selokan, atau depan rumah tetangga. Sampah bisa menghalangi jalur air dan menyebabkan banjir naik. Juga membuat lingkungan kotor, bau, penyakitan dan ribut dengan tetangga. Pembakaran sampah juga menambah konsentrasi gas rumah kaca. Kalo bisa, buat pengolahan sampah sendiri.
Keduabelas, asah kreativitas untuk mendaur ulang barang. Belajar dari pemulung. Syukur-syukur bisa jadi tambahan penghasilan.
Ketigabelas, kurangi penggunaan plastik. Plastik perlu ratusan tahun untuk didaur ulang dan pembakarannya banyak mengeluarkan gas berbahaya. Yang ini kayaknya orang kita agak repot soalnya penggunaan plastik di Indonesia sangat royal.
Walaupun yang kita lakukan sekarang ga akan menstabilkan konsentrasi CO2 dalam kurun waktu 10 atau 50 tahun. Tapi bukan berarti kita bisa diam saja. Kalo tidak tau bagaimana cara mengolah polusi setidaknya kita bisa berperan untuk tidak ikut menambahnya. Lagi juga bukankah kita sebenarnya berutang bumi yang waras kepada anak cucu kita?
2 comments 29 June 2008